Kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) massal hingga pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang menembus Rp 16.400 santer terdengar beberapa waktu terakhir. Bahkan, kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran, apakah kondisi ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja?
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berada di angka Rp 16.410. Di sisi lain, badai PHK di sektor industri tekstil marak terjadi. Sehingga, Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) melaporkan sebanyak 13.800 pekerja pabrik terkena PHK sejak awal 2024.
“Ada enam perusahaan Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) tutup, empat lakukan efisiensi PHK. Total pekerja ter-PHK sekitar 13.800-an pekerja,” kata Kepala KPSN Ristadi.
PHK tak hanya melanda industri tekstil. Baru-baru ini marketplace Tokopedia juga melakukan efisiensi pekerja dengan klaim restrukturisasi setelah kerjasama dengan TikTok Shop.
“Kami melakukan penyesuaian yang diperlukan pada struktur organisasi sebagai strategi perusahaan agar terus tumbuh,” ungkap Direktur Corporate Affairs Tokped, Nuraini Razak. Beberapa peristiwa terjadi dalam waktu singkat dan memunculkan kekhawatirkan publik.
Penyebab Dollar AS meningkat, bagaimana Ekonomi Indonesia?
Dollar AS terus meningkat nilai tukarnya dengan rupiah. Bahkan, nilainya terus bertahan per dollar AS Rp. 16.400 hingga kondisi ekonomi Indonesia terus terguncang sampai terjadi PHK massal.
Eddy menjelaskan, perubahan kurs mata uang merupakan hal alami. Namun, ada beberapa faktor yang membuat nilai tukar rupiah tidak menguat signifikan terhadap dollar AS.
Seperti barang, permintaan mata uang yang tinggi akan membuat harganya naik. Sebaliknya, permintaan rendah menyebabkan harganya turun.
Dia mencontohkan, suatu negara yang lebih banyak eskpor barang ke luar negeri akan membuat pasar meminta lebih banyak mata uang negara tersebut. Akibatnya, harga uang meningkat sehingga kurs mata uangnya menjadi lebih rendah. Menurutnya, kondisi tersebut saat ini sedang dialami Indonesia.
Ia menuturkan, Indonesia banyak mendapatkan keuntungan perdagangan dari barang ekspor. Dengan begitu, nilai tukar rupiah rupiah terhadap dollar AS seharusnya menguat. Akan tetapi, ada faktor lain yang memengaruhi nilai tukar rupiah dengan dollar AS, misalnya perbedaan suku bunga antarkedua negara. Negara yang memiliki suku bunga lebih tinggi akan membuat mata uang menjadi merosot.
Suku bunga adalah harga yang dibayarkan bank kepada nasabah yang menyimpan uang di bank tersebut. Karena Indonesia saat ini memiliki suku bunga sekitar 6 persen, sedangkan AS 5,5 persen, hal ini membuat kurs dollar AS menjadi lebih tinggi daripada rupiah
Update Ekonomi, Negara Indonesia
Pakar ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Eddy Junarsin menyebutkan, ekonomi Indonesia saat ini masih berada di level bertahan (survive). Ia menepis anggapan ekonomi Indonesia sedang terpuruk. Sebab, untuk menilai kualitas ekonomi suatu negara tidak cukup hanya melihat indikator pelemahan nilai tukar mata uang dan PHK massal.
“Apakah (ekonomi kita) benar-benar sakit? Secara indikator makro tidak juga. Pertumbuhan ekonomi tidak istimewa, tapi tidak buruk. Masih survive,” ungkap dia, Rabu 19 Juni 2024. Lebih lanjut Eddy menjelaskan, beberapa indikator untuk menakar kondisi perekonomian dalam negeri, di antaranya tingkat inflasi, suku bunga, dan cadangan devisa negara. Berdasarkan data yang ada saat ini, menurut Eddy, tingkat inflasi di Indonesia tidak seburuk negara lain. Begitupun dengan selisih tingkat acuan suku bunga Indonesia dengan Amerika Serikat yang tidak terlalu besar.